Siapa di sini yang saat memilih jurusan dibikin bingung antara jurusan rumpun pendidikan dan ilmu murni? Walaupun cuma 4 tahunan, tapi memang suka bikin bingung, yak. Tidak lain karena 4 tahun itu memang cukup berpengaruh buat ke depannya juga sih, huhu.
Nah, buat Kawans yang akhirnya memilih jurusan rumpun ilmu murni, tapi pengin tetap ada waktu “belajar” yaitu berinteraksi dan berproses bareng anak-anak, mungkin masih ada kesempatan nih… Bahkan, mungkin banget Kawans ngga cuma belajar bareng anak-anak dari satu instansi, melainkan lebih dari itu. Wah, gimana caranya? Mengingat belajar bareng anak-anak itu menantang, seru, dan tulusnya bikin terharu, izinkan aku berbagi cerita tentang itu.
Hai! Inilah aku, alumnus ilmu murni, tepatnya Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Alhamdulillah, aku berkesempatan belajar bareng anak-anak dari 5 instansi yang berbeda. Gimana ceritanya? Yuk, simak!
Magang Merdeka
Semester 4 hampir berakhir, sementara berita tentang belajar di luar kampus atau magang sesekali hadir. Aku yang menginginkan itu pun mencari tahu: Bertanya ke teman-teman sejurusan, kakak tingkat sejurusan dan lintas universitas, dosen PA, kaprodi, serta berdiskusi dengan orang tua. Hasilnya, satu pengetahuan yang cukup komprehensif, sehingga menjadikanku memiliki pilihan buat magang di TK Pertiwi dekat rumah.
Pilihan tersebut kuajukan ke kaprodi, sehingga jadilah wawancara tentang bagaimana TK tersebut, latar belakangku, serta korelasinya dengan ilmu yang pernah dan akan kupelajari. Ilmu yang pernah kupelajari yaitu mata kuliah semester 1 sampai 4: Bisakah menjadi bekal dan mungkinkah kuterapkan di TK? Sementara itu, ilmu yang akan kupelajari yaitu mata kuliah yang akan dikonversi pada semester 5 ini.
Setelah semua aman, aku mendapat surat pengantar magang untuk kemudian kusampaikan ke bakal tempat magang. Iya, ngga langsung diterima, melainkan ada wawancara lagi. Bermodalkan niat tulus, keinginan belajar dan berkontribusi, ilmu mata kuliah, serta Bahasa Krama, alhamdulillah aku diterima. Setelahnya, aku pun mendapat wejangan-wejangan untuk nanti berinteraksi dengan anak-anak. Begitu juga sebelum Hari H, mendapat wejangan lagi.
“Ada bu gulu balu….”
“Ada bu gurru barru….”
Begitulah kalimat-kalimat yang kudengar dari siswa-siswi berseragam putih dan biru muda pada hari pertamaku sekaligus hari pertamanya (di semester gasal). Seru banget sih, beberapa keseruannya udah kutulis di sini.
Balik lagi tentang magang. Meskipun magangku dikonversi, tapi tetap ada materi yang harus dipelajari, tugas yang harus dikerjakan, dan laporan yang harus dituliskan. Terlihat ribet, tapi sungguh menyenangkan. Empat bulan pun terasa singkat. Iyap, di Surat Perjanjian Kerja Sama antara fakultas dan tempat magang, waktuku cuma empat bulan. Setelahnya, aku kembali belajar di kelas bareng teman-teman yang semester ini mengambil kelas reguler alias ngga magang. Fyi, belajar di kelas opsional aja karena udah dikonversi.
Panitia Amaliyah Ramadhan
Belajar bareng anak-anak ternyata secandu itu. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Setelah aku kembali belajar di kelas, ada pendaftaran Panitia Amaliyah Ramadhan (PAR) oleh masjid yang berada di dekat kampus yang beberapa program kerjanya bareng anak-anak. Tanpa ragu, aku pun memilih divisi yang bakal lebih banyak belajar bareng anak-anak.
Seperti biasa, pastilah ada wawancara. Saat ditanya pengalaman, aku pun menceritakan tentang aku yang pernah belajar bareng siswa-siswi TK. Alhamdulillah-nya diterima lagi. Jujur seseneng itu karena membayangkan soreku selama Ramadhan nanti bakal bareng anak-anak tiap hari. Apalagi kalau ingat aku ini anak rantau yang berpotensi home sick sewaktu-waktu.
Persiapan-persiapan pun dimulai. Peralatan dan berbagai perlengkapan disiapkan. Ngga lupa juga pelatihan-pelatihan offline dan online oleh para ahli sebagai persiapan belajar bareng anak-anak. Lagi-lagi seseneng itu karena mendapat wawasan baru. Sampai di sini barangkali ada yang bertanya, “Kuliahnya gimana?” Alhamdulillah kuliah tetap jalan karena persiapan dan pelatihannya akhir pekan dan terkadang ba’da isya sampai sebelum jam 22.00 WIB.
Sampai akhirnya, proker pertama dimulai. Lebih kurang tiga jam sebelum bertemu Ramadhan, aku ke masjid untuk menyambut anak-anak yang akan mondok 4 hari 3 malam. Yap, nama programnya Pesram (Pesantren Ramadhan) yang pesertanya siswa/i kelas 4 sampai 6 SD. Peserta tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing ada pendampingnya. Nah, akulah pendamping salah satu kelompok tersebut. Ngapain aja? Menyambut mereka biar lebih siap LDR sementara sama orang tuanya. Selebihnya? Kayak kakak pendamping waktu Pramuka, tapi ini lebih deket. Awalnya diem-diem, lama-lama selow kayak mbaknya sendiri.
Seusai itu, istirahat sehari. Besoknya? Lanjut proker kedua yaitu KAS (Kajian Anak Sholeh). Kajian yang pesertanya santri TPQ masjid tersebut dan anak-anak secara umum. Waktunya ba'da ashar sampai ba'da maghrib. Agendanya materi, tahsin, berkisah, mewarnai, atau outbound; bubker; lalu sholat maghrib berjamaah. Pematerinya dari divisiku yang udah dijadwal dua orang per hari sejak jauh-jauh hari. Pastinya, materinya juga udah disiapkan jauh hari juga.
Mengingat santrinya banyak dan aktif, yang lagi ngga jadi pemateri pun diharapkan berangkat. Aku yang alhamdulillah waktunya sering luang pun hampir berangkat setiap hari. Alhasil, rasanya feel like home alias bukber tanpa banyak wacana sampai menjelang hari raya.
Di tengah-tengah itu, perwakilan divisiku juga berkesempatan ikut bakti sosial ke panti asuhan. Tidak lain sebagai garda terdepan pedekate bareng anak-anak. Kalau ini, ketemu anak-anak TK sampai SMA, tapi alhamdulillah tetap Allah mudahkan buat bonding. Walaupun ngga sampai setengah hari, tapi tersimpan dalam sanubari.
Kuliah Kerja Nyata
Setelah hari raya, pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tiap akhir pekan pun dimulai. Boleh banget baca ceritanya di sini. Aku bertugas di Divisi Pendidikan. Nah, berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya yang program kerjanya sudah disiapkan dan tinggal diimprovisasi saja, kalau ini benar-benar diserahkan ke tiap kelompok KKN. Mengingat, kebutuhan setiap desa berbeda-beda.
Sebagai penanggung jawab, aku dan satu teman divisiku pun merumuskan prokernya setelah survei ke desa bakal KKN bersama teman sekelompok. Hasilnya, kami akan menyasar salah satu SD yang kiranya paling membutuhkan. Program kerjanya sendiri beragam dan masing-masing menyesuaikan kebutuhan dan tingkatan kelasnya. Jadilah satu proker tentatif.
Proker tentatif itu dirapatkan bareng teman-teman sekelompok kiranya ada masukan atau lainnya. Setelah aman, lanjut ke dosen pembimbing. Alhamdulillah semuanya aman dan hanya ada beberapa masukan untuk praktiknya nanti.
Eit, ngga langsung praktik tapi… Kami tetap mengonfirmasinya kepada kepala SD terkait walaupun sebelumnya juga sudah pernah ada diskusi tentang proker. Setelah fiks, barulah dimulai.
Alhamdulillah banget semuanya membantu menyukseskan. Mulai dari teman sekelompok yang kalau prokernya ngga tabrakan pasti ikut, pihak sekolah yang juga mendampingi (salah satu proker kami dilaksanakan pada masa liburan sekolah selama 6 hari), sampai pihak desa yang menyiapkan tempat.
Lagi-lagi, seseneng itu. Sampai akhirnya, hari terakhir itu tiba. Kami melaksanakan perpisahan, lalu banyak sekali surat dan hasil karya sebagai kenang-kenangan dari siswa/i. Bener-bener ngga disangka, ternyata mereka se-respect itu.
YSAB Goes to School
Usai KKN, lanjutlah skripsi yang jarang banget dibuka selama 35 hari itu. Yap, semester 7, ketika kelas masih ada dan penelitian harus jalan. Penelitian, Ya? Iyaa, alhamdulillah aku udah seminar proposal penelitian H-1 KKN, sehingga setelah KKN pun mulai penelitian.
Sampai akhirnya, semester 7 berakhir. Seingatku, saat itu lagi mempersiapkan seminar hasil (sidang). Eh ketemu sama oprec YSAB Goes to School. Dan yaa seneng banget karena kalau diterima, artinya aku bakal berkesempatan belajar bareng anak-anak lagi.
Aku pun mendaftarkan diri, lalu seperti biasa wawancara. Mengingat ini rawan bertabrakan dengan jadwal sidang dan aku sendiri ngga bisa melawan, aku pun mengonfirmasi berkaitan dengan hal tersebut. Dari pewawancara pun bisa mengerti, lalu alhamdulillah diterima dan lagi-lagi seneng karena ngga tabrakan.
Sebelum terjun ke SD, pastinya ada persiapan juga. Walaupun ngga kayak KKN yang programnya dari nol, tapi karena apa-apa harus disiapkan yaa harus. Fyi, YSAB itu singkatan dari Youth Sustainable Agriculture Banyumas. Nah, YSAB Goes to School yaa singkatnya kayak sosialisasi seputar pertanian dan lingkungan ke anak-anak sekolah.
Eit, tapi jangan bayangin semua anak SD kumpul di satu aula, lalu aku dan teman-teman lain mengisi materi, ya. Bukan begitu, melainkan dibagi per kelasnya. Jadilah dibagi-bagi tuh tiap buat tiap kelasnya. Waktu itu yang udah berpengalaman disarankan memilih kelas kecil, aku pun memilih kelas 2 bersama satu teman lain.
Berangkat jam 6 pagi di titik kumpul, lalu sampai SD jam 7 kurang. Waktu itu Jumat, kami pun ikut senam pagi terlebih dahulu. Setelah itu, masuk kelas masing-masing untuk membuat karya daur ulang. Kemudian, secara bergiliran tiap kelas praktik menanam. Setelah itu, main-main lagi, cerita, sampai akhirnya foto bersama tiba. Hehe, sudah deh~
Jadi begitu, Kawans. Caraku, seorang mahasiswi ilmu murni bisa belajar bareng siswa TK, santri TPQ, pelajar panti asuhan, SD program KKN, dan SD program YSAB… Yap, caranya yaitu mengikuti magang merdeka, kepanitiaan, dan program pengabdian kampus.
Kalau boleh nebak, di lingkungan kampus kalian juga ada kok, semangat mencari tahu, ya! Apalagi sekarang ada juga program Kampus Mengajar. Kalau ternyata ngga ada, pasti ada kesempatan interaksi sama anak-anak, walaupun sekadar bertukar senyuman. Mungkin anaknya ibu kos masih bocah? Mungkin tetangga ibu kos punya anak yang suka main? Mungkin anaknya penjual makanan langganan punya anak? Mungkin di jalan berpapasan sama anak-anak? Atau bisa banget: Ngadain bimbel gratis buat anak-anak sekitar kosan.
Walaupun memilih ilmu murni, tetap semangat menjalani karena gimanapun itu bakal bermanfaat buat nanti berinteraksi sama anak dan orang-orang sekitar yang sayang sama Kawans, xixi. Selamat berproses!
.jpg)