Harusnya Kita Tahu: Selembar Catatan Sampah

Harusnya kita tahu...

Mencegah itu jauh lebih mengasyikkan daripada mengobati

Mencegah itu jauh lebih menyenangkan daripada terseok rugi sana-sini

Dan mencegah itu jauh lebih menenangkan daripada memikirkan hal negatif yang telanjur terjadi

Ya...

Mencegah gangguan lambung dengan makan sehat dan tepat waktu jauh lebih mengasyikkan daripada asam lambung naik lagi dan lagi

Mencegah gangguan ginjal dengan minum air putih cukup jauh lebih menyenangkan daripada pusing cari uang untuk cuci darah berkali-kali

Dan ngga scrool media sosial jauh lebih menenangkan daripada memikirkan informasi tak terstruktur yang telanjur masuk dalam diri


Hm...

Memang, hampir semua hal, terutama yang kita bener-bener paham dampaknya, pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Iya sih, pencegahan dan pengobatan tuh sama-sama berjuang, tapi kalau pengobatan ngga enaknya double combo dan dampak yang terjadi juga ngga ketulungan.


Nah, ternyata berkaitan dengan hal tersebut juga berlaku dengan persoalan sampah.

Tentang usaha pengelolaan limbah dapur untuk pupuk biar ngga jadi pencemaran darat, laut, dan udara

Kebayang ngga sih, kalau nanti bener-bener udah tercemar, terus plot twist-nya kita bener-bener ngga boleh menghasilkan limbah dapur. Ngga makanlah kita... Udah gitu, baunya ampun banget lagi.

Makanya, enakan dikelola. Apalagi buat yang udah jadi penguasa dapur. Mungkin dengan ember tumpuk?

Kalau yang belum punya dapur, mungkin bisa se-simple berusaha habisin makanan nih....

Tentang usaha perawatan barang yang kita punya biar ngga lekas jadi sampah juga

Kalau nanti kita juga ngga boleh menghasilkan sampah sama sekali, gimana? Kalau nanti punya pimpinan yang punya regulasi "Siapa saja yang buang sampah harus nyapu sampai AKAP", gimana? Nyesel banget ngga sih, karena kita yang jadi penyebab susahnya diri kita sendiri? Enakan usaha dari sekarang yang kita bisa, sesimple merawat dengan baik apa-apa yang kita punya, misalnya.

Tentang usaha penggunaan transportasi dengan bijak biar ngga jadi pencemaran yang lagi-lagi dampaknya buat kita lagi

Lucu itu ketika kita kena gangguan paru karena asap kendaraan yang kita peroleh dari perjalanan nirmanfaat kita sendiri. Kalau kita kebal, orang lain yang kena. Makanya, selagi memungkinkan, lakukan perjalanan yang penting aja kayaknya boleh juga? Kalau bisa pakai transum, kalau bisa lagi yaa nggoes aja. Walaupun dalam pidato pak Sanjay Thakrar pesepeda termasuk yang merugikan ekonomi negara, tapi ngga apa-apa. Biarin pemangku kebijakan ekonomi mikirin cara lainnya biar negara ngga mengalami kerugian.

Tentang usaha penanggalan plastik agar ngga menjadi pemicu dampak bahaya mikroplastik

Lucu banget kalau endingnya anak keturunan kita pindah ke planet lain dalam keadaan sakit karena keracunan mikroplastik gara-gara plastik sekali pakai yang kita wariskan. Padahal, bisa banget kita usaha dikit nyiapin wadah sebelum membeli sesuatu. Mungkin bisa kita mulai dengan bawa totebag waktu belanja?


Nah, plastik tersebut... pun kalau kita kelola jadi ekobrik, sampah anorganik tetep ngga berkurang, sehingga menurutku itu bukan solusi utama. Lantas, apa solusi utamanya? Jawabannya yaa pencegahan tadi.

Iya, terkadang orang mengira sudah mengelola sampahnya dengan baik. Padahal, yang lebih perlu diperhatikan adalah pencegahan: gimana caranya biar sampah itu ngga ada. Makanya, hadirlah Hirarki Pengelolaan Sampah.

Praktiknya nanti mungkin terkesan ribet sih.... Namun, harusnya kita tahu tentang mencegah dan mengobati. Iya, mau ribet sekarang atau besok jauh lebih ribet lagi? Kalau udah terbiasa juga bakal terasa simple karena kita teringat gimana dampaknya~