Pengumuman UTBK tinggal menghitung hari. Selain rasa deg-degan, rasa ambisi menyiapkan diri menjadi seorang maba juga hadir dalam sanubari, seperti mencari tahu lebih dalam tentang prodi dan memikirkan hal-hal yang akan menjadi kebutuhan saat masa-masa perkuliahan nanti. Apalagi buat yang akan menjadi mahasiswa rantau. Sandang, pangan, dan papan seakan rutin hadir dalam pikiran.
Sandang atau yang saat ini lebih dikenal dengan outfit pasti perlu dan harus tercukupi karena termasuk salah satu kebutuhan primer. Dalam kawruh Bahasa Jawa juga ada pepatah "Ajining raga ana ing busana" yang berarti outfit memengaruhi kehormatan diri. Penting banget memang outfit ini.
Sampai-sampai, ada yang memutuskan upgrade outfit dengan memanfaatkan paylater. Dampaknya, terkadang pangan dan papan malah ngga tercukupi serta kehormatan bisa lepas dari diri. Mikirin cicilan, sehingga makan jadi jarang. Tagihan kosan juga nunggak berbulan-bulan. Akhirnya, ada yang terpaksa melakukan hal memalukan, sehingga kehormatan hilang dari genggaman. Niat hati mencukupi gengsi kebutuhan dan meningkatkan kehormatan, malah kewalahan. Duh, seram!
Kabar baik nih buat maba. Kalian ngga perlu mikirin outfit, tenang aja... Bukan karena ngga niat mencukupi kebutuhan, juga bukan karena ngga peduli sama kehormatan, melainkan… coba ingat-ingat lagi hal-hal ini yuk.
Hanya Tercukupi, Bukan Terlampaui
Kebutuhan pokok di atas dalam teori hanya perlu dicukupi saja, bukan dilampaui, kan? Menurutku, dalam praktiknya juga demikian. Ibarat gelas, kalau isinya melampaui juga bikin kotor sekitarnya. Begitu juga kalau outfit-nya berlebihan, bisa-bisa malah setiap mau ngampus merasa ngga punya pakaian karena saking banyaknya pilihan.
Barangkali ada yang bingung standar tercukupinya gimana, secara kuantitas… mungkin bisa hitung saja jumlah hari kuliah dalam sepekan. Lima, kan? Sementara itu, secara kualitas… mungkin lihat saja aturan outfit di agama dan kampus Kalian. Kalau udah punya lima yang sesuai aturan? Berarti… Selamat! Outfit kuliah sudah tercukupi, malah sedikit melampaui kalau rajin nyuci dan matahari terus menyinari.
Tenang aja, kehormatan tetap terjaga kok. Apalagi kalau Kalian rajin, kecuali kalau teman-temannya toxic. Jadi, kalau Kalian inget hal ini, Kalian ngga pusing mikirin outfit baru dan jadi tahu mana teman toxic.
Nanti Bakal Dapat Ini
Kalian nanti kemungkinan besar banget bakal ada kaos atau kemeja kembaran sekelas dan/atau seangkatan buat makrab. Nah, makrab sendiri biasanya terlaksana beberapa pekan setelah ospek. Kan lumayan banget buat tambahan outfit ke depan. Saat hampir purna tugas menjadi mahasiswa juga mungkin Kalian akan KKN yang lagi-lagi kemungkinan besar banget bakal ada kaos dan topi kembaran setimnya. Jadi, lebih kurang selama menjadi mahasiswa, Kalian minimal akan mendapatkan tiga outfit atasan.
Buat yang Niat Jadi Aktivis, Outfit Kalian Bakal Berkembang Biak
Buat yang suka berperan dan berkontribusi baik melalui organisasi, kepanitiaan, maupun lomba, beneran deh, ngga usah mikirin outfit. Nanti bakal mendapat PDH organisasi yang bisa dipakai buat kuliah serta kaos kepanitiaan yang bisa dipakai selain jam perkuliahan. Ngga lupa juga kaos atau kemeja hadiah setelah berhasil menjawab pertanyaan seminar serta seragam peserta lomba yang kalau pakai itu rasanya jadi lebih semangat 45. Bonus banget ngga tuh? Rasa semangatkan ngga bisa terbeli dengan cuan.
Sudah Banyak Pos yang Menunggu Uang Kalian
Outfit yang didapatkan karena menjadi aktivis memang banyak yang gratis, tapi menjadi aktivisnya sendiri terkadang butuh biaya. Organisasi dan kepanitiaan ada iuran, beberapa lomba juga ada biaya pendaftaran, dan seminar gratisan pun bisa jadi pulangnya harus nambal ban. Pastinya, ada banyak lagi lebih dari itu. Jadi, mending uangnya disiapkan ke sana aja.
Problematika Limbah Pakaian
Buat maba yang kondisi taraf ekonominya di atas rata-rata mungkin mudah saja mendapatkan semuanya. Namun, coba Kalian cari informasi tentang limbah tekstil dan pakaian, sepertinya akan menyimpulkan bahwa banyak yang pengelolaannya masih jauh dari ramah lingkungan. Kurangnya alat dan banyaknya limbah menjadi alasan. Dalam hirarki pengelolaan sampah, langkah pertama yang harus dilakukan yaitu menghindari hal-hal yang berpotensi menimbulkan sampah. Nah, sepertinya ngga mikirin outfit baru termasuk dalam langkah tersebut.
Wih, ternyata ngga mikirin outfit baru bagi mahasiswa baru manfaatnya se-butterfly effect itu, ya. Ngga cuma buat diri sendiri, tapi sekitar juga ikut merasakan manfaatnya. Jadi, udah siap praktik demi kebaikan semuanya?