.
Kayaknya setiap kita sepakat bahwa AI atau Artificial Intelligence telah menjadi suatu keniscayaan bagi setiap pengguna internet, betul? Oleh karena itu, si AI ini ngga bisa kita hindari karena kita bisa meraup manfaat dari sisi terangnya. berbicara mengenai sisi terang, tentunya ada sisi gelapnya. Mungkin Kawans juga pernah merasakannya? Nah, ternyata Al-Qur'an punya siasatnya. Baiklah, mari kita mulai pembahasannya. Sebagai informasi, karena contoh kasusnya berhubungan dengan fenomena di sekitarku, maka aku ceritakan keseharianku terlebih dahulu, ya.
Aku seorang yang beberapa waktu lalu melepas status mahasiswa akhir melalui prosesi yudisium. Saat aku masih menjadi mahasiswa akhir, sekitar dua kali sebulan, aku meluangkan waktu untuk menarik ulur Instagram. Nah, unggahan yang dengan sukarela muncul di akun Instagramku seringnya adalah unggahan yang berkaitan dengan statusku sebagai mahasiswa akhir itu. Dari mulai yang sedih, sampai yang senang. Ya, dari mulai tentang revisi berkali-kali, sampai wisuda ditemani suami.
Pinter banget memang AI dalam Instagram itu, membuatku rela berleha-leha meluangkan waktu satu jam untuknya. Padahal waktu tersebut mestinya bisa digunakan untuk hal bermanfaat, misalnya menulis atau sekadar mencoret-coret konsepan tulisan, sehingga akhirnya bermuara di blog, lalu bermanfaat untuk lainnya, harapannya~
Nah, itulah sisi gelap pertamanya: Mempersingkat Waktu yang Ada
Mungkin beberapa dari Kawans pernah merasakan? Scroll media sosial, kayaknya konten-konten yang muncul itu sesuatu yang disukai dan relate banget, jadilah mungkin merasa dimengerti. Oleh karena itu, tiba-tiba sudah jam berapa saja. Baterai atau WiFi mati baru terasa, perut lapar dan perasaan lainnya juga, “Aduh, laper sama pengen pupita.” Sudah begitu, listriknya padam. Niatnya healing sejenak dari tugas-tugas, malah semakin pusing, bahkan uring-uringan.
Waktu 24 jam jadi semakin menyusut banyak. Pantas saja dalam Q.S. Al-’Asr: 2, Allah menyatakan bahwa manusia dalam kerugian yang besar. Jadi, semangat memanfaatkan relativitas waktu yuk, biar 24 jam terasa luang karena kebermanfaatanlah yang kita tuai di setiap detiknya, karena tempat healing yang kita pilih itu tepat, sehingga harapannya… kita sama-sama ngga termasuk dalam Q.S. Al-’Asr: 2 itu.
Kedua: Salah Ngasih Informasi yang Diperlukan
Sebelum yudisium, aku biasanya mengetik di Microsoft Word, tetapi setelah yudisium harus terbiasa mengetik di Google Docs. Mungkin semua juga sudah tahu kalau Google Docs mengandung AI. Nah, saat aku mengetik di Google Docs, AI berinisiatif menggarisbawahi kata yang menurutnya kurang tepat. Yap, menurutnya. Menurutku yang sedikit belajar kaidah kebahasaan dalam Bahasa Indonesia, tepat-tepat saja kok, misalnya saat aku mengetik kata “mengondisikan”, lalu AI berinisiatif menyampaikan saran yang tepat yaitu "mengkondisikan". Hal itu menjadikanku meringis heran. Yap, kalau yang benar “mengkondisikan”, berarti kalau mau mengonversi kata “kirim” menjadi kata kerja aktif, hasilnya “mengkirim” dong? Meskipun demikian, kadang AI ada benarnya juga. Nah, dari situ benang merahnya adalah Q.S. Al-Alaq: 1. Yap, belajar. Jadi, misalnya kita lupa ngasih spasi pada kata “ditepian” auto sadar kalau kita memang salah, lalu kita menambahkan spasi di antara kata “di” dan “tepian”. Dengan kalimat lain, kita bisa lebih bijak menyikapi rasa inisiatifnya AI pada Google Docs dengan cara belajar.
Begitu juga saat aku baru mendengar hadirnya Chat GPT. Waktu itu langsung on the way ke sana. Sesampainya di halaman itu, aku menanyakan tentang “PKN STAN”, lalu dengan ramah ia menjawab pertanyaanku. Nah, ia mengawali jawabannya dengan menjelaskan kepanjangan PKN STAN, katanya PKN STAN kependekan dari Program Kependidikan Nasional Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Permulaan jawaban itu tentunya ngga sesuai sama harapanku. Yap, harapanku kepanjangan PKN STAN adalah "Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara". Kalau aku belum belajar atau dalam hal ini mengetahui tentang PKN STAN, tentunya aku bakal iya-iya aja dan manut kalau kepanjangan PKN STAN adalah Program Kependidikan Nasional Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
Mengetahui realita itu, aku jadi teringat reels Instagram saat aku menjadi mahasiswa akhir. Reels itu tentang AI yang bisa membantu membuat abstrak karya tulis ilmiah. Padahal, se-simple kepanjangan “PKN STAN” saja demikian, ya. Apalagi serumit abstrak karya tulis ilmiah yang sampai menjadikan beberapa orang menyerah mengerjakannya. Kalau belum ada orang yang menyerah, mungkin AI pembuat abstrak itu belum banyak bermunculan, betul? Mengingat, mayoritas pasar tercipta kalau ada demand.
Ngomong-ngomong tentang percakapanku dengan AI tentang kepanjangan “PKN STAN” nih… Ternyata, ada teladan yang bisa kita petik. Yap, si AI ngga nyolot atau bahkan ngegas. Mungkin sudah pernah diajari kandungan Q.S. Al-Humazah kali ya…
Nah, itu baru Instagram, Google Docs, dan Chat GPT. Yap, belum mengupas AI-AI yang ada di sesuatu yang lain. Jadi, semangat memanfaatkan waktu untuk kebaikan, salah satunya adalah belajar. Dengan demikian, harapannya kita bisa menyiasati sisi gelap AI.
Catatan Tambahan: Doain aku ya, Kawans. Semoga ke depannya selalu dikasih ke-istiqomah-an nerapin hal-hal—yang semoga baik—yang aku sampaikan. Terima kasih.


