Kerugian Tak Terduga Membeli Buku Bajakan

Akhir-akhir ini Kawans sering denger berita tentang penerbit buku yang gulung tikarkah? Miris banget gak sih? Kayak… kalau amit-amitnya penerbit buku yang gulung tikar bertambah seiring berjalannya waktu, terus gimana nasib pencinta buku? Di mana mereka harus nyari buku buat nambah wawasannya lagi?

Terus gimana nasib karyawan yang bekerja di sana? Iyap! Dunia penerbitan tuh ngelibatin banyak pihak, kita bisa lihat di halaman bagian awal-awal buku. Nah, yang di bagian itu baru tim redaksi aja, belum tim promosi dan tim support. Memang, sebanyak itu:)

Jadi, semoga jangan sampai penerbit buku yang gulung tikar itu bertambah seiring berjalannya waktu ya?

Ngomong-ngomong, biasanya faktor terbesar perusahaan (gak cuma penerbit buku aja) gulung tikar tuh karena pendapatan yang didapat lebih kecil daripada beban yang dikeluarkan gak sih? 

Nah, coba kita balik lagi ke penerbit yaa

Kalau penerbit, berarti sumber pendapatan mereka dari penjualan buku. Kalau disambung-sambungin sama pernyataan di atas, berarti penerbit yang gulung tikar itu karena penjualan bukunya lebih kecil daripada beban yang dikeluarkan, kayak buat biaya gaji ilustrator, desain, penata letak, editor, dan lain-lain serta gak lupa buat biaya cetak, pajak, dan royalti penulis.

Hm… biasanya lagi nih… penjualan menurun tuh terjadi karena adanya kompetitor atau saingan gak sih? Dan biasanya lagi, persaingan paling sengit tuh berkaitan sama harga. Kalau kayak gitu, berarti ada penjual buku yang menawarkan harga miring dong ya? Coba kita berpikir secara logis, di dunia perdagangan (komersial) mereka berani menawarkan dengan harga miring berarti kemungkinan karena dengan harga miring aja, mereka udah dapat untung, alias pengeluaran dan proses mereka itu gak sebanyak dan sepanjang pengeluaran dan proses penerbitan buku secara resmi.

Nah, kita balik lagi ke berita penerbit yang saat ini katanya mulai banyak yang gulung tikar. Berita itu secara tersirat ngasih info bahwa masih banyak orang yang belum menyadari kualitas buku yang terbit secara resmi alias bukan bajakan. Yap, dari proses panjang di penerbit resmi, itu menghasilkan buku yang berkualitas luar dalam lho yang tentunya memberi keuntungan ke kita sebagai pembaca yang menikmati hasil terbitan tersebut. Atau dengan kalimat lain, buku bajakan ini merugikan pembaca, bahkan ada kerugian tak terduga lho. Nah, apa aja? Mari kita cek:


Kertas Lepas

Entah karena waktu bolak-balik kertasnya pakai tenaga Hulk atau gimana, tapi kok ya baru beberapa hari dibuka plastiknya si kertas udah mulai gak mau saling bersatu aja, bikin yang punya sedikit kesal saja. Apalagi yang lepas-lepas itu pada keluar ngelebihin sampul, jadilah lama-kelamaan terlipat, lalu sobek deh~


Kertas Buram

Ketika bulan tengah menjalankan tugasnya dan pemilik buku berkertas buram pun tengah mengerjakan tugasnya–membaca buku berkertas buram– menjadikan kombinasi yang sangat apik: hitam dan abu-abu yang menjadikannya kelabu layaknya hari yang tanpa ada Engkau di hatiku, hwehehe.


Tulisan Kurang Jelas

Kalau lagi baca, biasanya penasaran banget gimana selanjutnya gak sih? Nah, yang bikin kecewa itu kalau lagi penasaran-penasarannya, eh dianya gak jelas (dia=tulisan), kan gimana rasanya gitu. Kadang huruf (gak sehuruf aja, tapi bisa berparagraf-paragraf) ketebelan, kadang ketipisan, kadang tanpa spasi, kadang kekecilan, kadang tulisannya masuk bagian yang terjilid alias si kertas itu gak punya margin kiri, hm~


Halaman Beraksara Transparan

Masih berkaitan sama yang di atas itu, kadang di tengah kertas berisikan tulisan (gak transparan), ada satu halaman yang dengan nyamannya ikut berjejer di antara mereka tanpa ngerasa berdosa dengan tulisan transparan alias halamannya kosong blong. Kalau halaman kosong itu gak mentransparanskan dua halaman sih rada mending ya (misal: halaman 1, halaman kosong, halaman kosong, halaman 2), lah ini… (misal: halaman 1, halaman kosong, halaman kosong, halaman 4). Tiba-tiba halaman 4, yaa gimana bisa paham?


Halaman Kurang

Masih mirip sama yang atas lagi, tapi ini lebih parah karena kadang ada yang setelah halaman 1 langsung halaman 4. Mungkin pas mau njilid, tukang jilidnya ada perlu kertas buat alas gorengan kali ya? 


Halaman Gak Urut

Masih berkaitan sama halaman, tapi ini lebih mending daripada dua di atas itu. Yap, kadang tuh urutannya (misal) gini: halaman 1, halaman 20, halaman 21, halaman 4…halaman 19, halaman 2, halaman 3, halaman 22. Nah, aku bilang lebih mending karena selagi masih punya keambisiusan dalam membaca buku yaa auto gak males buat bolak-balik nyari halaman demi tercapainya kepahaman. 


Halaman Terbalik

Pernah lihat orang yang baca buku kebalik? Nah, inilah yang akan Kawans lakuin ketika ketemu sama halaman ini. Kalau lagi sendiri sih gapapa ya, tapi kalau tiba-tiba ada gebetan entar dikira salah tingkah lagi, padahal aslinya bener-bener harus dibaca kebalik karena halaman bukunya yang bikin ulah. Sedikit tips kalau gak mau bukunya dibalik yaa kepala Kawans yang dimiring-miringin, tapi percayalah bahwa itu bakal makin dikira salah tingkah. 


Coretan Bertebaran Layaknya Bintang di Puncak Gunung ketika Langit Cerah

Apakah Kawans masuk tim yang kalau baca buku harus sekalian ngasih penanda-penanda dan catatan-catatan kecil? Ataukah tim yang kalau baca buku, bukunya harus bener-bener bersih? Nah, kalau Kawans masuk salah satu dan/atau dua tim itu serta Kawans belinya buku bajakan, kemungkinan Kawans akan cukup terganggu dengan buku bajakan yang kadang banyak banget tulisan yang udah digarisbawahi sama pemiliknya yang bukunya dipotokopi lalu dijadikan buku bajakan.


Nah, itu dia beberapa kerugian tak terduganya. Semoga dengan membeli buku original, kita jadi lebih bisa memanfaatkan ilmu dari buku, kita makin dikasih kemudahan dalam membeli buku, dan secara gak langsung kita ngasih kesempatan lapangan kerja buat saudara kita yang jadi karyawan di dunia penerbitan serta memberi semangat kepada para penulis agar karya mereka semakin berkembang dan bermanfaat.